
Oleh: Mohammad Solahudin
Trainer IFI
Kalau kamu pernah menonton film Dilan 1990, pasti masih ingat bagaimana Dilan mendekati Milea. Dilan tak frontal, tak memaksa, bahkan tak sok romantis. Tapi justru itulah yang membuat pendekatannya berhasil. Dilan memperhatikan Milea, mengenalnya, lalu hadir dengan cara yang unik dan relevan. Kalimat seperti, “Milea, kamu cantik. Tapi aku belum mencintaimu. Nggak tahu kalau sore,” bukan sekadar gombal, tapi bentuk pendekatan yang berbeda dan personal. Ia tidak menawarkan cinta, tapi membuka peluang untuk dikenali lebih jauh.
Lucunya, pendekatan Dilan ini bisa menjadi cermin dalam dunia fundraising, terutama ketika kita mencoba mengetuk hati CSR perusahaan. Karena pada dasarnya, mengajukan kerja sama CSR bukan hanya soal mengirim proposal, tapi soal membangun hubungan. Dan hubungan, seperti halnya percintaan, membutuhkan seni mendekat.
Sayangnya, banyak lembaga sosial atau NGO yang terlalu buru-buru menembak. Lembaga mengirim proposal tanpa mengenal perusahaan, menawarkan program tanpa memahami konteks CSR-nya, bahkan berharap langsung diterima hanya karena proposalnya ‘panjang dan bagus’. Padahal, dalam realitasnya, perusahaan justru mencari mitra yang paham siapa mereka dan menghadirkan solusi yang sesuai.
Menurut laporan Boston Consulting Group (BCG) dan Philanthropy Asia Alliance tahun 2022, sebanyak 85% perusahaan di Asia yang bermitra dengan NGO menyatakan bahwa program CSR mereka menjadi lebih tepat sasaran dan berkelanjutan dibanding jika dikelola internal. Artinya, peluang kolaborasi sangat besar, asal dilakukan dengan pendekatan yang tepat.
Seperti Dilan, langkah pertama adalah profiling yakni mengenali perusahaan yang ingin kita dekati. Mulailah dengan memahami latar belakang perusahaan, wilayah kerja mereka, hingga nilai-nilai yang mereka anut. Apakah mereka beroperasi di bidang energi, manufaktur, atau ritel? Apa pilar CSR mereka. Apakah fokus pada pendidikan, lingkungan, kesehatan, ekonomi, atau sosial? Apakah mereka punya komitmen terhadap ESG, CSV, ISO 26000, atau sedang mengejar peringkat PROPER?
Memahami profil ini adalah setengah jalan menuju keberhasilan. Karena program yang relevan tidak hanya menyentuh hati mereka, tapi juga menyambung dengan tujuan strategis bisnis mereka. Proposalmu tidak akan terasa sebagai permintaan bantuan, tetapi sebagai peluang kemitraan.
Langkah kedua, adalah melakukan matching. Tanpa riset, proposal bisa terasa seperti “one-size-fits-all”, seragam dan membosankan. Dengan riset, kamu bisa menunjukkan bahwa program sosialmu adalah solusi yang disesuaikan (tailored solution), mendukung manajemen risiko, dan memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Buatlah proposal yang simple namun berbobot, maksimal 10 halaman. Jangan lupa membawa profil lembagamu dalam bentuk hard file dan soft file karena kadang kesempatan datang tak terduga, dan kamu harus siap memperkenalkan diri.
Yang ketiga, tentu saja approaching yaitu proses mendekat. Di sinilah kepekaan dan jejaring berperan besar. Cari tahu siapa PIC CSR-nya, gabung ke forum-forum komunitas CSR, dan jalin komunikasi secara bertahap. Audiensi awal bukan ajang jualan program, tapi ruang untuk memperkenalkan lembagamu dan menunjukkan bahwa kamu mitra yang bisa dipercaya. Bawalah 1–2 program unggulan, jangan terburu-buru menjejalkan semua katalog. Tunjukkan keunikan, kekuatan dampak, dan alasan mengapa programmu layak didukung.
Perusahaan butuh lebih dari sekadar proposal bagus. Mereka mencari narasi kolaborasi yang menyatu dengan identitas mereka. Mereka ingin tahu bagaimana program ini memperkuat positioning mereka? Apakah program ini bisa diukur dampaknya? Apa yang membedakan program ini dari ratusan proposal lain?
Di sinilah kamu bisa meniru Dilan. Tidak berlebihan, tapi penuh kesan. Tidak agresif, tapi konsisten. Tidak hanya datang ketika butuh, tapi hadir dengan makna. Karena seperti Dilan yang tak pernah menjanjikan apa-apa tapi tetap dikenang Milea, begitu pula proposal yang dikemas dengan pemahaman dan kejelasan tujuan. Ia tak sekadar menarik, tapi membuka peluang jangka panjang.
Pada akhirnya, meluluhkan CSR perusahaan bukan soal teknik pitching atau desain proposal, tapi soal seni membangun koneksi yang tulus dan strategis. Seperti halnya Dilan, kamu hanya perlu tahu waktu yang tepat untuk hadir, kata yang tepat untuk disampaikan, dan nilai yang tepat untuk ditawarkan.
Jika kamu sudah siap meluluhkan CSR perusahaan ala Dilan ke Milea, jangan ragu untuk memulainya hari ini.Karena bisa jadi, CSR perusahaan itu seperti Milea, ia tidak mudah didapat, tapi bisa diluluhka kalau kamu tahu caranya.




