Solidaritas Tanpa Batas, Filantropi Tanpa Sekat

Ketika kerusuhan mengguncang Jakarta, banyak orang terjebak dalam rasa cemas dan kekhawatiran. Namun, di tengah situasi penuh ketegangan itu, muncul sebuah kisah sederhana yang justru menghangatkan hati: seporsi nasi uduk menjadi simbol solidaritas lintas negara.

Sejumlah warganet Malaysia menunjukkan empati dengan cara yang unik. Mereka tidak hanya mengirim doa, tetapi juga memesan makanan melalui aplikasi ojek online di Indonesia, lalu meminta agar makanan tersebut dibagikan kepada para driver atau masyarakat yang berada di lokasi kejadian. Beberapa di antaranya bahkan memesan hingga puluhan porsi makanan, senilai jutaan rupiah, sambil menyertakan pesan menyentuh seperti: “Kami warga Malaysia tetap menyokong rakyat Indonesia. Semoga kalian baik-baik di sana.”

Aksi ini kemudian viral di media sosial. Sebuah panduan sederhana tentang cara ikut serta dalam gerakan ini dibagikan luas: cukup mengubah lokasi aplikasi ke Jakarta, menambahkan catatan khusus, lalu memilih menu yang sederhana dan aman untuk dibagikan. Tidak hanya masyarakat Malaysia yang ikut terlibat, tetapi juga warganet dari Filipina, Singapura, hingga beberapa negara Eropa. Solidaritas digital ini menunjukkan bagaimana teknologi mampu menjadi penghubung kemanusiaan yang efektif dan cepat.

Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari identitas Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara dengan tingkat kedermawanan tinggi di dunia. Menurut laporan World Giving Index (WGI) 2024 yang dirilis oleh Charities Aid Foundation, Indonesia masih menempati peringkat pertama sebagai negara paling dermawan di dunia selama tujuh tahun berturut-turut. Laporan ini mencatat bahwa sekitar 90 persen masyarakat Indonesia pernah memberi donasi, sementara lebih dari 65 persen terlibat dalam kegiatan sukarela. Malaysia pun masuk dalam jajaran negara paling dermawan, menegaskan bahwa budaya memberi bukan sekadar tradisi, melainkan identitas sosial yang mengakar.

Namun, dalam laporan terbaru World Giving Report (WGR) 2025, posisi Indonesia mengalami perubahan. Dengan metodologi yang lebih komprehensif, laporan tersebut menempatkan Indonesia di peringkat ke-21 dari 101 negara. Meski demikian, capaian ini tetap berada di atas rata-rata global karena donasi masyarakat Indonesia mencapai 1,55 persen dari pendapatan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata dunia yang hanya 1,04 persen. Pergeseran ini menunjukkan bahwa meski posisi Indonesia bergeser dalam peringkat, semangat kedermawanan masih kuat tertanam di tengah masyarakat.

Bagi Institut Fundraising Indonesia (IFI), kisah solidaritas lintas negara ini adalah cermin nyata bagaimana fundraising bekerja. Fundraising tidak bisa dipahami hanya sebagai seruan donasi semata. Ia adalah proses strategis yang menghubungkan donor’s intent—niat kebaikan para pemberi—dengan beneficiary’s need—kebutuhan nyata dari penerima manfaat. Dalam teori fundraising modern, hubungan ini dikenal sebagai the bridge of meaning, jembatan makna yang mengikat hati antara pemberi dan penerima.

Karena itu, setiap rupiah atau ringgit yang disalurkan bukanlah sekadar angka dalam laporan keuangan. Ia merepresentasikan ikatan solidaritas antar-manusia, memperkuat jejaring kebaikan lintas batas, serta menjadi modal sosial yang memungkinkan masyarakat lebih resilien menghadapi krisis. Dari perspektif IFI, tugas lembaga fundraising bukan hanya menggalang dana, melainkan memastikan kepedulian itu dikelola dengan amanah dan memberi dampak nyata.

Solidaritas Asia Tenggara dalam bentuk seporsi nasi uduk ini mengajarkan bahwa kebaikan tidak mengenal sekat geografis. Ia bisa menyeberang dari Kuala Lumpur ke Jakarta hanya dengan sekali sentuh di layar ponsel. Dan lebih dari itu, aksi kecil yang dilakukan dengan tulus mampu menciptakan makna besar bagi banyak orang.

Dari sinilah IFI meneguhkan kembali misinya: menjahit semangat solidaritas lintas bangsa, menghidupkan budaya philanthropy yang berkelanjutan, dan memastikan setiap bentuk kepedulian menjadi jembatan yang menguatkan kehidupan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *