Direktur Institut Fundraising Indonesia (IFI), Sri Sugiyanti, membeberkan tiga hal penting yang perlu diperhatikan seorang fundraiser sebelum mengejar target donasi. Menurutnya, keberhasilan fundraising tidak hanya ditentukan oleh besarnya nominal donasi yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga strategi dan pendekatan yang tepat kepada calon donatur.
Dalam proses fundraising, target donasi kerap menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan seorang fundraiser. Namun, ketika target belum tercapai, fundraiser tidak seharusnya langsung meningkatkan intensitas permintaan donasi tanpa mengevaluasi strategi yang digunakan.
Sri Sugiyanti menjelaskan, ada tiga hal yang perlu diperhatikan fundraiser agar upaya penggalangan dana berjalan lebih efektif.
Pertama, jangan hanya fokus pada nominal donasi.
Menurut Yanti, fundraiser perlu memahami bahwa target yang belum tercapai bukan berarti mereka harus meminta donasi dengan lebih keras atau lebih sering. Sebaliknya, kondisi tersebut harus menjadi momentum untuk mengevaluasi strategi fundraising yang telah dijalankan.
“Ketika target belum tercapai, jangan buru-buru meminta donasi lebih keras. Coba evaluasi kembali strategi dan pendekatan yang sudah kita gunakan. Bisa jadi bukan soal seberapa sering kita meminta, tetapi bagaimana cara kita menyampaikan ajakan berdonasi,” jelas Yanti.
Evaluasi ini penting untuk mengetahui apakah pesan kampanye sudah tepat sasaran, apakah saluran komunikasi yang digunakan efektif, serta apakah pendekatan yang dilakukan mampu membangun ketertarikan calon donatur
Kedua, kenali donatur yang menjadi target.
Hal berikutnya yang tidak kalah penting adalah mengenali calon donatur. Fundraiser perlu memahami siapa audiens yang ingin dijangkau, apa yang menjadi perhatian mereka, serta alasan yang membuat mereka tertarik untuk mendukung sebuah program.
Yanti mengingatkan agar fundraiser tidak menyebarkan kampanye donasi secara sembarangan kepada semua orang tanpa mempertimbangkan karakteristik audiens.
“Jangan asal menyebarkan campaign ke semua orang. Kita harus tahu siapa audience kita dan mengapa mereka peduli terhadap isu atau program yang sedang kita kampanyekan. Dengan mengenali calon donatur, kita bisa membangun komunikasi yang lebih relevan dan tepat sasaran,” ungkapnya.
Dengan memahami karakteristik calon donatur, fundraiser dapat menyesuaikan pesan kampanye, memilih saluran komunikasi yang sesuai, dan membangun hubungan yang lebih kuat dengan calon pendukung.
Ketiga, jangan menunggu target mendekati tenggat waktu.
Yanti juga menekankan pentingnya melakukan pemantauan target donasi secara berkala. Fundraiser tidak seharusnya baru mengevaluasi pencapaian ketika tenggat waktu kampanye sudah semakin dekat.
Sebaliknya, progres penggalangan dana perlu diperiksa secara rutin, termasuk melalui evaluasi mingguan. Dengan begitu, fundraiser dapat mengetahui lebih awal apabila pencapaian donasi belum sesuai dengan target yang telah ditentukan.
“Jangan menunggu sampai target sudah mepet baru kita sibuk mencari solusi. Cek progres secara rutin, evaluasi setiap minggu, dan siapkan strategi alternatif jika pencapaian belum sesuai harapan,” kata Yanti.
Langkah tersebut memungkinkan fundraiser mengambil tindakan lebih cepat, baik dengan memperbaiki strategi komunikasi, memperluas jangkauan audiens, maupun mengoptimalkan kanal fundraising yang digunakan.
Yanti mengingatkan bahwa mengejar target donasi bukan semata-mata tentang seberapa banyak fundraiser meminta sumbangan. Lebih dari itu, keberhasilan fundraising ditentukan oleh kemampuan membaca kebutuhan donatur, membangun komunikasi yang tepat, dan menyusun strategi yang efektif.
“Jadi, mengejar target donasi bukan tentang seberapa banyak kita meminta, tetapi seberapa tepat kita menggunakan strategi,” pungkasnya.
(Yons Achmad/Fundraisingindonesia.org)




